Yayasan Bintang Kidul, Menyusut Asa Anak-anak Kurang Mampu, Meraih Harapan hingga ke Eropa

Yayasan Bintang Kidul. Kegiatan rutin anak-anak beasiswa Yayasan Bintang Kidul.

Yayasan Bintang Kidul. Kegiatan rutin anak-anak beasiswa Yayasan Bintang Kidul.(Instagram/bintangkidul)

KOMPAS.com – Berawal dari kepedulian sekelompok orang, Yayasan Bintang Kidul kini menjelma menjadi wadah untuk memberdayakan anak-anak dan remaja dari kalangan tidak mampu. Melalui program pemberdayaan, yayasan ini mendorong para remaja agar mampu membangun masa depan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan komunitas. Yayasan ini mulai beraktivitas sejak 2010 dan resmi berdiri pada 2016 setelah memperoleh legalitas dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). Pendirinya adalah Tri Sugiharto, seorang warga Yogyakarta.

Sejak saat itu, berbagai programnya telah memberi dampak signifikan di berbagai daerah.

Upaya memberdayakan anak-anak pemulung

Yayasan Bintang Kidul menyediakan beasiswa bagi anak-anak dari keluarga yang hidup dalam kemiskinan ekstrem, mulai dari jenjang SD, SMP, SMA/SMK, sekolah vokasi, hingga universitas. Ada juga beasiswa pelatihan, les privat, serta sekolah khusus bagi anak-anak yang memiliki kesulitan luar biasa dalam belajar. Manajer Operasional Yayasan Bintang Kidul Muhammad Habib Saifullah menjelaskan, yayasan ini awalnya berfokus pada pendampingan di daerah Kampung Pemulung, Jakasampurna, Bekasi Barat. “Awalnya kami melakukan pendampingan terhadap anak-anak dan remaja di daerah Kampung Pemulung, di Tarumajaya, Bekasi Barat, melalui kegiatan literasi, kesenian, dan olahraga,” ujar pria yang akrab disapa Ipung ini kepada Kompas.com, Sabtu (16/8/2025). “Nah, lalu dari kegiatan-kegiatan itu, kemudian kami tawarkan untuk beasiswa,” tambahnya.

Awalnya, kegiatan pendampingan Yayasan Bintang Kidul dilakukan di lingkungan anak-anak pemulung. Namun, demi efektivitas program, sebagian anak difasilitasi untuk melanjutkan pendidikan di Yogyakarta. Program Yayasan Bintang Kidul bahkan telah berkembang hingga ke wilayah Sumatera. Kini, Yayasan Bintang Kidul telah berkembang tidak hanya di Bekasi, tetapi juga di beberapa kota lain, termasuk Sumatera Barat (Bintang Harau di Harau, Bintang Kurenah di Payakumbuh, Bintang Saiyo di Padang), Lampung (Bintang Kotabumi), dan Jakarta (10 Bintang). Selain itu, di Jogja terdapat Bintang Opak, Bintatang Kali, Bintang Watu Gilang, serta kantor pusat Yayasan Bintang Kidul. Ini semuanya terletak di desa-desa kecil, di selatan dan timur Yogyakarta.

Simbol harapan dan cita-cita anak binaan

Anak-anak Yayasan Bintang Kidul kali ini berkesempatan buat berkolaborasi bareng komunitas-komunitas di Jogja, ada Temu Buku Berjalan, Metafor.id, dan Deepublish Store, salah satu penerbit buku di Jogja.

Anak-anak Yayasan Bintang Kidul kali ini berkesempatan buat berkolaborasi bareng komunitas-komunitas di Jogja, ada Temu Buku Berjalan, Metafor.id, dan Deepublish Store, salah satu penerbit buku di Jogja.(Instagram/bintangkidul)

Nama setiap program di Yayasan Bintang Kidul selalu diawali dengan kata “bintang”. Kata Ipung, pemilihan nama ini bukan tanpa alasan. Bintang melambangkan harapan agar anak-anak binaan dapat bersinar, berprestasi, dan menemukan jalan hidupnya. Hal ini sejalan dengan tujuan yayasan yang berkomitmen mendampingi anak-anak dan remaja dalam meraih mimpi. “Tujuan besar kami adalah mendampingi anak-anak dan remaja untuk mencapai mimpi dan cita-cita mereka, serta memiliki kehidupan yang lebih baik bagi diri mereka sendiri dan komunitas sekitar,” ujarnya. Dengan begitu, bintang menjadi simbol cita-cita dan harapan yang ingin diwujudkan bersama.

Ragam program dan aktivitas di Yayasan Bintang Kidul

Yayasan Bintang Kidul memiliki dua program utama, yaitu pendampingan melalui olahraga, serta pendampingan melalui kegiatan belajar dan kesenian. Untuk bidang olahraga, yayasan mengembangkan program bulu tangkis yang bekerja sama dengan Solibad (Solidarity and Badminton) dari Perancis. Dalam program bulu tangkis, terdapat dua bentuk kegiatan. Pertama adalah Badminton for Fun, yang ditujukan untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak-anak sekaligus menjadi media edukasi melalui olahraga. Orientasi program ini bukan untuk mencetak atlet, melainkan memberikan wadah positif agar anak-anak terbiasa berolahraga, membangun kepercayaan diri, serta terhindar dari kegiatan yang tidak bermanfaat.

Program kedua adalah Ultimate, yaitu program reguler yang berorientasi pada pembinaan atlet. Melalui program ini, Yayasan Bintang Kidul mendorong anak-anak binaan untuk menekuni bulu tangkis secara serius dengan mengikuti berbagai turnamen resmi yang diselenggarakan Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI). “Jadi, kita ikut sertakan ke turnamen-turnamen yang diselenggarakan oleh PBSI, termasuk turnamen yang paling besar namanya Sirnas (Sirkuit Nasional), kita ikutkan atlet-atlet kita, anak-anak kita, Yayasan Bintang Kidul untuk ikut serta,” kata Ipung. Sejauh ini, sejumlah prestasi telah diraih, di antaranya juara pada Kejuaraan Daerah (Kejurda) di Yogyakarta dan Sumatera Barat. Pada tingkat nasional, meskipun belum meraih gelar juara, para atlet binaan sudah mampu menembus hingga delapan besar dalam turnamen resmi.

Tawarkan beberapa pembelajaran bahas asing

Yayasan Bintang Kidul. Kegiatan pembelajaran bahasa Asing.

Yayasan Bintang Kidul. Kegiatan pembelajaran bahasa Asing.(Instagram/bintangkidul)

Di luar bidang olahraga, Yayasan Bintang Kidul juga menyelenggarakan kegiatan sepulang sekolah yang mencakup pembelajaran akademik, kesenian, dan literasi. Bidang kesenian meliputi tari dan musik, sedangkan di bidang akademik tersedia program bahasa Inggris, bahasa Jawa, dan bahasa Perancis. Selain itu, terdapat pula bimbingan PR, membaca, menulis, hingga kelas khusus bagi anak-anak dengan keterbatasan atau kesulitan belajar. Dalam pelaksanaannya, yayasan ini juga melibatkan relawan, termasuk satu pengajar asal Perancis. “Kalau yang dari relawan, sampai saat ini ada satu relawan yang memang dia dari Perancis, yang sudah tinggal di Indonesia cukup lama, namanya Ibu Christine,” ucap dia. Selain itu, Yayasan Bintang Kidul memiliki kegiatan reguler yang berlangsung hampir setiap hari.

Pada hari Selasa dan Kamis diadakan kelas bahasa, sedangkan hari Rabu dan Jumat diisi dengan kegiatan literasi, seperti membaca, diskusi, dan debat. Khusus hari Jumat, selain literasi, anak-anak juga mengikuti kegiatan olahraga, sehingga dalam satu hari bisa berlangsung lebih dari satu aktivitas. Di luar kegiatan internal, setiap hari Minggu anak-anak juga terlibat dalam aktivitas komunitas Trash Hero Yogyakarta. Meskipun bukan bagian dari yayasan, kerja sama ini memberi ruang bagi anak-anak untuk belajar peduli lingkungan dan bekerja bersama komunitas lain. Ada juga kegiatan Forwar (Forum Warga), yaitu forum evaluasi mingguan yang dikelola sepenuhnya oleh anak-anak setiap hari Senin. Melalui forum ini, seluruh kegiatan yayasan diorganisasi secara mandiri, dari anak-anak, untuk anak-anak, dan oleh anak-anak sendiri.

Ada 11 anak di Yayasan Bintang Kidul

Di Yayasan Bintang Kidul, terdapat program khusus bagi anak-anak dari berbagai daerah yang difasilitasi untuk melanjutkan pendidikan di Yogyakarta. Saat ini, jumlahnya sekitar 11 anak, mulai dari tingkat SMP, SMA, hingga perguruan tinggi, bahkan ada yang sudah bekerja. Menurut Ipung, program ini ditujukan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu yang memiliki semangat untuk meraih cita-cita melalui pendidikan. Namun, karena keterbatasan, yayasan tidak membuka rekrutmen secara umum, melainkan menjaring calon peserta melalui jaringan dan kerja sama yang telah terbangun. “Jadi, misalnya kita punya jaringan A, yang kemudian dari jaringan A itu dia menawarkan, ‘ini ada anak yang layak untuk dibantu’ gitu, nanti kita akan cek, kita akan observasi, kalau ternyata sesuai dengan kriteria nanti akan jadi anak beasiswa Bintang Kidul,” terang dia.

Dengan adanya program Yayasan Bintang Kidul, Ipung mengeklaim anak-anak kini memiliki kegiatan positif sepulang sekolah. Orangtua pun merasa lebih tenang karena anak-anak mereka terpantau mengikuti latihan bulu tangkis pada jam-jam tertentu, sehingga terhindar dari aktivitas yang tidak bermanfaat. “Kalau yang di Bekasi, sangat terasa, karena yang di Bekasi itu khusus untuk anak-anak lapak, anak-anak pemulung. Di program ini, khusus anak Bekasi juga kami pertemukan dengan komunitas-komunitas di luar lapak,” kata dia. “Terutama kami pertemukan dengan atlet-atlet nasional, kemudian atlet dari luar negeri juga. Dari situ anak-anak menjadi lebih percaya diri,” tambahnya.

Dari Yayasan Bintang Kidul menembus Eropa

Rayendra Pratama Putra (20) saat berkesempatan melatih bulu tangkis di Eropa.

Rayendra Pratama Putra (20) saat berkesempatan melatih bulu tangkis di Eropa.()

Rayendra Pratama Putra (20) mengatakan, ia mendapatkan banyak manfaat dari program-program Yayasan Bintang Kidul. Ia merupakan anak binaan asal Bekasi yang pindah ke Yogyakarta untuk difasilitasi seluruh kebutuhannya oleh yayasan.  Saat ini, ia tengah menempuh studi di Universitas Negeri Yogyakarta, jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga. Di sela perkuliahan, Rayendra juga melatih bulu tangkis di salah satu klub di Yogyakarta. “Manfaat yang paling saya rasakan justru ada pada soft skills, seperti kemampuan berkomunikasi dengan banyak orang dan tumbuhnya rasa percaya diri,” ujarnya saat dihubungi secara terpisah, Minggu (17/8/2025). Sebagai atlet profesional binaan Yayasan Bintang Kidul, ia sering mengikuti berbagai kejuaraan, mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional. Ia pernah meraih juara di tingkat Kabupaten Bantul pada ajang Bantul Series 2023 dan Kejuaraan Kabupaten Bantul 2024.  Di tingkat provinsi dan nasional, pencapaian terbaiknya adalah masuk delapan besar.

Rayendra menambahkan, meskipun pernah meniti karier sebagai atlet profesional, kini ia lebih berfokus untuk menjadi pelatih bulu tangkis. Beberapa waktu lalu, ia berkesempatan melatih di Eropa selama kurang lebih satu bulan di dua negara, yakni Swedia dan Perancis.  Seluruh fasilitas, mulai dari tiket pesawat hingga kebutuhan lainnya, ditanggung oleh Yayasan Bintang Kidul. “Itu adalah pengalaman terbaik dalam hidup saya. Saya bisa belajar langsung dari pelatih dan atlet di Eropa, sekaligus mengenal budaya di sana,” katanya. Menurutnya, dukungan Yayasan Bintang Kidul sangat besar dalam mendorong anak-anak binaannya untuk berkembang, bahkan hingga menjadi atlet profesional. Yayasan Bintang Kidul juga tidak berjalan sendirian. Mereka memiliki mitra, yakni Solibad, sebuah yayasan asal Perancis.  Di Indonesia, Yayasan Bintang Kidul dan Solibad berkolaborasi membangun tempat latihan bulu tangkis untuk mendukung anak-anak muda yang kurang mampu namun memiliki semangat tinggi. Saat ini, terdapat sekitar delapan klub bulu tangkis binaan di Indonesia, tiga di antaranya berada di Bantul, Yogyakarta.

Dapat beasiswa sekolah hingga kuliah

Mohammad Dicky Darmawan (21), anak binaan asal Pati, Jawa Tengah, merupakan salah satu penerima beasiswa dari Yayasan Bintang Kidul.

Kepada Kompas.com, Dicky mengatakan mengaku telah mendapatkan beasiswa penuh sejak jenjang SMK setelah bergabung dengan yayasan pada 2019.  Setelah lulus SMK pada 2022, ia melanjutkan studi di Universitas Amikom Yogyakarta, jurusan D3 Manajemen Informatika, dan dijadwalkan akan diwisuda pada Oktober tahun ini. “Tentu sudah banyak sekali manfaat yang saya dapatkan sejak bergabung dengan Yayasan Bintang Kidul. Yang paling utama adalah dukungan pendidikan. Melalui beasiswa ini, saya bisa lebih fokus belajar tanpa harus terlalu memikirkan kendala finansial,” ujarnya.

Menurutnya, Yayasan Bintang Kidul tidak hanya membantu dari sisi materi, tetapi juga menyediakan ruang untuk tumbuh dan berkembang secara pribadi.  Berbagai kegiatan, seperti bimbingan belajar, diskusi mingguan, hingga program kolaborasi dengan pihak eksternal, mendorongnya untuk terus mengasah diri.“Dari kegiatan-kegiatan itu, saya belajar banyak hal baru, mulai dari problem solving, kemampuan komunikasi, hingga cara bekerja sama dalam tim,” jelas dia. “Yayasan Bintang Kidul sudah menjadi keluarga kedua bagi saya. Semua orang di sini saling mendukung, berbagi, dan menginspirasi satu sama lain,” tambahnya.

Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2025/08/19/070000865/yayasan-bintang-kidul-menyulut-asa-anak-anak-kurang-mampu-meraih-harapan.
Tim Redaksi Kompas.com: Alicia Diahwahyuningtyas (Penulis), Ahmad Naufal Dzulfaroh (Editor)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *